.



Senin, 15 Juli 2013

Posted by Kajian Pemikiran Islam
| 10:18
Oleh: Muhammad Rusydi

Salah satu pembahasan penting dan menarik dalam kajian filsafat Islam adalah masalah Averroisme dan kritikan Ibn Rusyd terhadap kritikan al-Ghazali kepada para filosof muslim. Siapapun yang bermaksud mengkaji konsep pemikiran filsafat dalam Islam maka tidak lengkap kajiannya bila tidak disertai dengan kajian tentang Averroisme dan kritikan Ibn Rusyd terhadap kritikan al-Ghazali kepada filosof muslim. Ibn Rusyd, dengan cerdik dan dengan kedalaman argumentasi yang dipaparkannya, menangkis sekaligus mengoreksi konsep al-Ghazali yang mengeritik filosof muslim bahkan mengafirkan mereka
dalam bukunya Tahâfut al-Falâsifah.
Kritikan Ibn Rusyd terhadap kritikan al-Ghazali kepada filosof muslim terutama al-Farabi dan Ibn Sina muncul satu abad sesudah al-Ghazali wafat (tahun 1111) dalam karyanya, Tahâfut al-Tahâfut.
Kritikan Ibn Rusyd ini merupakan bentuk pembelaan bagi filosof dari serangan yang dilancarkan oleh al-Ghazali. Dengan pembelaan ini maka “sel” Ghazalisme menjadi terbelah oleh filsafat Ibn Rusyd. Ibn Rusyd memang lebih dikenal sebagai seorang filosof (ahli filsafat) dari pada sebagai seorang ahli fiqih, teolog, atau dokter. Keadaan ini dapat dimengerti karena karya-karya Ibn Rusyd lebih banyak dalam bidang filsafat atau berkaitan dengan persoalan-persoalan filsafat, terutama ringkasan-ringkasan dan ulasan-ulasan atas karya-karya Aristoteles. Oleh karena itu Ibn Rusyd sering disebut sebagai al-Syârih al-Akbar atau the Great Commentator, sebuah sebutan yang pernah diberikan oleh Dante (1265-1321) dalam karyanya, Divina Comedia.
Kritikan Ibn Rusyd terhadap al-Ghazali tentang kritikan al-Ghazali terhadap para filosof dalam bidang filasafat sudah dikenal luas. Namun demikian kritikan itu tidak ada salahnya untuk diulas kembali sehingga diperoleh pemahaman yang seksama. Kritikan al-Ghazali terhadap para filosof menyangkut tiga persoalan yaitu tentang 1) keqadiman alam, 2) ketidaktahuan Tuhan terhadap rincian (juz’iy), dan 3) kebangkitan jasmani di akhirat.
1.                  1.   Keqadiman Alam  
Salah satu persoalan yang menjadi pembahasan dalam filsafat ialah masalah keqadiman alam. Apakah alam ini bersifat qadim (eternal) dalam arti tidak berawal dalam penciptaannya ataukah bersifat baru (temporal) yakni diciptakan dari tiada. Dalam sejarah pemikiran filsafat, bahwa alam itu bersifat qadim, sudah lama dikenal. Di kalangan filosof Yunani, misalnya Aristoteles berpendapat bahwa alam itu bersifat qadim dalam arti tidak ada awalnya. Pendapat sepertia ini sudah diikuti dan dikembangkan oleh filosof pripatetik (al-masyâ’iyyûn) dari kalangan para pemikir Islam misalnya al-Farabi dan Ibn Sina.
Menurut Ibn Rusyd bahwa pemikiran al-Ghazali tentang alam itu baru yakni diciptakan dari tiada dan mempunyai permulaan dalam zaman mengandung arti bahwa ketika Tuhan menciptakan alam, Tuhan berada dalam kesendirian. Lalu Tuhan mencitakan alam dari tiada, creatio ex-nihilo. Pemikiran seperti ini menurut Ibn Rusyd tidak sejalan dengan kandungan al-Qur’an. Di dalam al-Qur’an dikatakan bahwa sebelum alam diciptakan oleh Tuhan, telah ada sesuatu sebelumnya. Misalnya di dalam Surah Hud ayat 8 dikatakan “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari dan tahta-Nya (pada waktu itu) berada di atas air”. Ayat ini memberikan gambaran bahwa ketika Tuhan menciptakan langit dan bumi telah ada terlebih dahulu di samping Tuhan tahta dan air.
Para filosof memang tidak menerima konsep penciptaan alam dari tiada. Tiada tidak dapat berubah menjadi ada. Yang terjadi ialah ada dalam bentuk materi asal yang dirubah oleh Tuhan menjadi ada dalam bentuk lain misalnya langit dan bumi. Karena itu, yang qadim adalah materi asal sedangkan langit dan bumi susunannya adalah baru. Memang terdapat perbedaan pandangan tentang al-ahdâts (penciptaan) antara para teolog dan filosof. Bagi para teolog penciptaan mengandung arti mewujudkan dari tiada, sedangkan bagi para filosof penciptaan mengandung arti mewujudkan dari yang ada, yang tidak bermula dan tidak berakhir. Para teolog juga berbeda pandangan dengan para filosof tentang arti qadim. Bagi para teologi qadim mengandung arti wujud tanpa sebab, sedangkan bagi para filosof qadim mengandung arti wujud tanpa sebab atau dengan sebab.
2.                 2.   Ketidaktahuan Tuhan terhadap Rincian (juz’iy)
Para filosof mempunyai pemikiran bahwa pengetahuan Tuhan bersifat global atau universal (kulliy), tidak mencakup rinician (juz’iy). Konsep ini tidak terlepas dari pemahaman bahwa yang rincian (juz’i) terikat dengan perubahan misalnya perubahan waktu dari segi masa lalu, masa sekarang, dan masa akan datang; serta perubahan dari segi tahu misalnya dari tidak tahu, tahu, dan akan tahu. Bila ilmu Tuhan dikaitkan dengan hal yang demikian maka akan menimbulkan pengertian bahwa Tuhan akan mengalami perubahan. Hal ini mustahil bagi Tuhan. Konsep filosof seperti ini mendapat kritikan dari al-Ghazal, karena bagi al-Ghazali bahwa Tuhan Maha Kuasa dan Maha Mengetahui, sehingga Tuhan mengetahui segala sesuatu.
Kemudian Ibn Rusyd mengeritik kembali al-Ghazali dan menganggapnya keliru dalam menilai pemikiran filosof tentang hal ini, karena filosof tidak pernah mengemukakan hal yang demikian. Menurut pemikiran filosof bahwa Tuhan juga mengetahui rincian (juz’iy). Persoalannya ialah bagamana Tuhan mengetahui hal-hal yang rinci. Hal yang rinci berbentuk materi dan materi dapat ditangkap oleh pancaindera. Sedangkan Tuhan bersifat immateri dan tidak mempunyai pancaindera.
Mengenai persoalan ini, menurut Ibn Rusyd, pemikiran filosof mempunyai arah yang tidak terlepas dari konsep bahwa pengetahuan Tuhan tentang rincian yang terdapat dalam alam ini tidak sama dengan pengetahuan manusia tentang rincian itu sendiri. Pengetahuan manusia cenderung mengambil bentuk efek, sedangkan pengetahuan Tuhan merupakan sebab, yaitu sebab begi terwujudnya rincian tersebut. Apalagi pengetahuan manusia itu bersifat baru sementara pengetahuan Tuhan bersifat qadim walau bagaimanapun bentuknya.
3.                 3.   Kebangkitan Jasmani di Akhirat
Ibn Sina, salah seorang filosof Islam, telah mengemukakan konsep pemikiran bahwa manusia akan dibangkitkan kembali di akhirat dalam wujud rohani bukan dalam wujud rohani dan jasmani. Konsep pemikiran ini dikritik oleh al-Ghazali. Menurut al-Ghazali bahwa manusia akan dibangkitkan di akhirat kelak dalam bentuk rohani dan jasmani, sehingga manusia akan mendapatkan kenikmatan rohani dan jasmani di dalam surga dan kesengsaraan rohani dan jasmani di dalam neraka. Pemikiran ini merujuk kepada konsep dasar ayat al-Qur’an yang menggambarkan kebangkitan rohani dan jasmani manusia di akhirat, dan ayat ini tidak boleh ditakwilkan.
Kritikan al-Ghazali terhadap masalah ini, menurut Ibn Rusyd merupakan suatu kekeliruan. Apalagi menurut Ibn Rusyd, al-Ghazali tidak konsisten dalam mengemukakan persoalan ini. Di dalam kitab Tahâfut al-Falâsifah al-Ghazali menulis bahwa tidak ada dalam Islam orang yang berpendapat adanya kebangkitan rohani saja di hari akhirat. Keterangan ini, menurut Ibn Rusyd, pertentangan dengan tulisan al-Ghazali dalam kitab yang lain. Dalam kitab ini al-Ghazali mengatakan bahwa di kalangan kaum sufi terdapat pendapat bahwa kebangkitan manusia di akhirat hanya dalam bentuk rohani, bukan dalam bentuk jasmani atau rohani dan jasmani.

Adapun mengenai hadits mâ lâ ‘ainun raat wa lâ uzunun sami’at wa lâ khathar ‘alâ qalb al-basyar menurut Ibn Rusyd, memberikan gambaran bahwa di dalam surga nantinya wujud manusia bukan dalam bentuk jasmani melainkan dalam bentuk rohani, dan apa yang disebutkan dalam al-Qur’an tentang surga dan isinya harus difahami secara metaforis. Apalagi sebagian ulama berpendapat bahwa wujud akhirat tidak sama dengan wujud dunia. Sungguhpun demikian bagi orang awam ssoal kembangkitan di akhirat perlu digambarkan dalam bentuk jasmani untuk memudahkan pemahaman dan mendorong mereka melakukan perbuatan baik atau menjauhi perbuatan jahat. Maka dari itu, Ibn Rusyd menilai bahwa soal kebangkitan di akhirat termasuk persoalan teoritis dari pada agama. Dalam hal ini tidak mesti filosof mempunyai keyakinan yang sama dengan orang awam dan tidak perlu mengafirkan mereka karena pendapat mereka berbeda dengan pendapat orang awam. Baca juga di  www.kajianpemikiranislam.com

(Sumber gambar: id.wikipedia.org)

Blogroll

Blogger templates

DRC

About